Langsung ke konten utama

Dear Rantingku

 (Ditulis tahun 2018, 6 bulan setelah menikah)

Dear Rantingku, yang selalu berguguran di hatiku..

Menjadi sah denganmu adalah kado terindah di usiaku ke -21 walau cerita ini benar-benar tak terduga;

Tapi yang tak terduga selalu menjelma indah. Perjalanan ini mencapai enam bulan lebih dan rasanya terlalu dini untuk sebuah usia pernikahan, namun aku sudah terlalu banyak merasakan berbagai macam cerita dan rasa bersamamu. Barangkali karena kita bersatu sebagai orang yang baru saling kenal; dalam hal apapun.

Dear Ranting, yang bersamamu aku ingin habiskan sisa umurku...

Gadis yang terlalu kekanak-kanakan ini dituntut menjelma dewasa gegara cinta dan seperangkat patah hatinya. Setelah episode luka itu berlalu, kau yang awalnya tak kuharapkan hadir, datang tiba-tiba dengan perkenalan yang serba tiba-tiba hingga sebuah pernikahan yang tiba-tiba. Dan pernikahan, apapun bentuknya, tetap akan mendidik seseorang untuk menjadi dewasa.

Dear Ranting, kekasihku di jauh...

Dan hidup tetap dengan ketidakdugaannya, termasuk cerita cintaku yang tak pernah kuduga hingga kedatanganmu yang menyembuhkan luka dengan caraNya yang indah. Dan aku semakin dituntut memiliki hati yang bijaksana, karena sebagaimana ceritamu tempo hari; ketenangan hidup bukan perihal ada dan tiadanya gelombang, namun sejatinya ketenangan adalah bagaimana hati kita tetap tenang sekalipun gelombang di luar menerjang. dan kau telah memiliki sebongkah hati itu, kekasih, sedang aku masih memperjuangkan hatiku seperti itu.

Dear Ranting, ketenanganku..

Setelah menjalani berbagai cerita rasanya aku ingin mendalami dan mengamalkan ilmu sufi. Fikih itu ilmiyah, sufi itu amaliyah. Tasawwuf itu berisi tentang Allah dan mengenalNya. Begitu dawuh kiai Hariri, Al-Maghfurlah. Aku ingin tenang dengan memprioritaskannya benar-benar. Termasuk mencintaimu karenaNya dan tidak menyakitimu karenaNya. Rasanya hidup tenang tanpa hiruk pikuk manusia. Aku ingin masuk ke dalam inti, meletakkan seluruh atribut dunia yang melelahkan, berlari menuju pusatNya.

Tapi itu angan, kasih. Aku terlalu lemah untuk berjalan sendiri, aku ingin kau menggandengku; melepaskan dunia yang melelahkan, berbuat, berfikir dan berperasaan apapun karenaNya. Dan aku sudah tidak punya cita apa-apa lagi. aku hanya ingin menuju ke kedalaman inti, sebelum aku terlambat mengenalnya dan Dia menarikku pergi segera dari segala yang fana.

Dear Ranting, diri ini siapa dibanding dirimu dan kepribadianmu yang semesta. Engkau siapalah dibanding Dia yang memiliki seluruh kita. Aku bukan milikmu, kau bukan milikku, di dunia ini kita sebenarnya tidak memiliki apapun. Ikatan ini hanya simbolitas, sebagai jalan terbaik untuk menujuNya. Segala pusat yang ada.

Dear Ranting, diri ini siapalah; ketika aku pernah berada di puncak, ketika mereka banyak mengenal, ketika mereka menganggapku mewah, ketika aku dianggap bisa segala, sungguh; saat itu juga aku merasa seperti debu terbang yang tak berarti apa-apa lalu perlahan aku ingin tenggelam dari hiruk pikuk dunia, pujian dan cacian, sanjungan dan makian;

Aku ingin memendar menuju kedalaman, mencari sunyi, menciptakan tenang di hatiku sendiri. Kasih, tak perlu muluk-muluk, hanya ajak aku menuju paling inti kehidupan.

Dear Ranting, aku yang labil; mencari-cari jalan ketenangan. Aku ingin memiliki hati seperti hatimu. Aku ingin tak peduli pada apapun kekurangan dan kelebihan. Aku ingin beredar seperti yang telah digariskan. Entah jika itu di atas langit, seperti matahari yang ditonton banyak orang atau semacam akar yang bekerja di balik tanah tanpa terlihat orang.

Dear Ranting, kekasihku yang semesta...

Aku sudah mengalami fase jatuh cinta dan segenap lukanya yang hebat. Sebuah masa yang inign segera kulampaui dan akhirnya usai juga. hingga kutemukan kau di ujung patah hati yang menjelma indah. Kekasih; rasanya tak ingin kembali jatuh cinta. Sayangnya mencintaimu adalah cerita yang tak bisa kutolak.

Hingga aku cemburu lagi, patah hati lagi, terluka lagi, berkali-kali...

Sesuatu yang melelahkan, dan terulang..

Dear Ranting..

Di tengah keramaian aku semakin ingin tenggelam menyebutNya berkali-kali mengobati hati yang terluka tak sengaja. Aku ingin tenggelam, semakin dalam, menuju pusaranNya.

Dear Ranting,

Peristiwa kemarin malam dan sesenggukanku yang tak kunjung padam, adalah tangisku yang kesekian kali. Bagaimana kemudian bisa mengondisikan hati dan air mata, jika ia spontanitas merespon kejadian di sekitarnya yang melukainya tanpa sengaja. Aku ingin terluka hanya karenaNya namun itu tahapan yang terlalu tinggi yang menjadi anganku saat ini.

Dear Ranting,

Untukmu yang semesta, diri ini siapalah. Dengan segenap kekurangan dan kelebihan yang begitu-begitu saja. tapi aku tau, salah sekali jika di hadapan hambaNya aku merendah. Walau aku tak tinggi, tapi merendahkan diri adalah sikap yang hina.

Dear Ranting,

Aku tak ingin siapapun menyakitiku, termasuk engkau..

Aku tak ingin siapapun kusakiti, lebih-lebih itu kau, kekasih..

Walau diri ini bukan siapa, tapi dengan cinta dan titahNya aku ingin membuatmu bahagia. Sangat bahagia. Namun aku belum melakukannya. Kelabilanku, terlalu banyak melukai perasaan dan pikiranmu.

Dear Ranting, cintaku menuju cintaNya..

Sungguh kita tidak tahu, berapa masa lagi hidup ini di dunia. Dan tak ada cita apa-apa lagi seperti masa kecil dulu. Satu-satunya cita hanyalah cintaNya. Dan itu sungguh. Tapi kadar diri yang terlalu lemah, rasanya sulit menggapainya. Radar diri yang lemah; sering kali lenyap-hilang, lalu datang lalu hilang dari radarNya. Maka jangan salahkan aku yang iri pada dirimu yang telah membawa 30 juz ayatNya. Ayat-ayat menuju cintaNya. Sedang diri ini berbekal apa, kecuali ilmu logika yang seringkali melelahkan bukan menenangkan. Sekalipun sumbernya tetap berasal dari satu; Nya.

Dear Ranting, kekasih surgaku...

Aku tak minta apa-apa lagi. cukup gandeng tanganku menuju kedalaman, menuju inti dari segala inti, menuju pusat dari segala, menuju yang berfirman waillayya al-mashir..

Menuju sumber ketenangan, sumber segala tentram. Dan aku tak peduli hidup seberapa dekat atau seberapa jauh lagi. Aku hanya sebagai burung yang ling-lung ingin pulang menuju sarang, tempat segala rindu bermuara.

Bersamamu, kasih..

Aku dengan penuh serius menyatakan ini, selepas kegiatan yang melelahkan di bawah langit malam dan lampu temaram; gandeng aku; menujuNya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CARA MENGAJAR TENTANG JAM DALAM BAHASA ARAB YANG MENYENANGKAN (Pelajaran Jam-Bahasa Arab Kelas VIII MTs dan Kelas VI MI)

  CARA MENGAJAR TENTANG JAM DALAM   BAHASA ARAB YANG MENYENANGKAN (Pelajaran Jam-Bahasa Arab Kelas VIII MTs dan Kelas VI MI) Oleh: Fina Lailatul Masruroh   Sebagaimana pelajaran bahasa Inggris, bahasa Arab juga menjadi pelajaran yang bagi kebanyakan siswa sangat sulit. Mereka harus tau membaca bahasa Arab yang bukan bahasa mereka sendiri, dan mampu menulis Arab sedang sehari-hari sudah terbiasa menulis latin. Saya selalu berfikir keras bagaimana agar pembelajaran ini bisa diterima dengan mudah dan menyenangkan oleh anak-anak. Sejak dulu saya suka mengajar dengan cara bernyanyi dan main game. Hari ini, saya punya ide untuk ikut melibatkan hobi mereka dalam belajar bahasa Arab. Setelah menulis materi di papan tulis (tentang jam dalam bahasa Arab) saya minta setiap anak untuk menuliskan hobi atau kesukaan mereka di lembar bagian bawah. Lalu saya catat setiap hobi mereka. Pelajaran kali ini saya isi dengan game lempar tanya cepat. Jadi setiap anak melempar pertany...

Kala Tubuh Minta Rehat

Catatan Hari Ini 📝✨ Semalam aku udah tekad banget buat nyelesain tugas presentasi genderku bakda subuh. Tapi naas! 🥲 Begitu bangun pagi tadi, kepala langsung puyeng bukan main. Kupakai koyok seperti biasa, terus kupaksa keluar cari angin dan sinar matahari sekalian beli lauk buat sarapan. Biasanya sih, kalau pusing palingan bentar doang, trus sembuh. Apalagi pagi ini ada Pak Lukman Saifuddin ngisi kuliah. Aku pikir, ya udah, rebahan sebentar, nanti juga kuat ikut kuliah beliau. Tapi ternyata, sampai balik ke kamar, pusing makin menjadi. Makan gak enak, mulut pahit banget. Kepala nyut-nyutan—kadang depan, kadang belakang, kanan-kiri pun ikut-ikutan. Nggilaaaaa 😵‍💫 Oke, fine. Aku butuh tidur. Mungkin siangan bisa kerjain tugas presentasi gendernya. Gak papa deh gak ikut kuliah Pak Lukman, yang penting cepat pulih dan bisa fokus. Pas temen-temen pada berangkat kuliah, Yaya—yang biasanya ogah-ogahan—malah ngajakin kuliah: “Miiiii, ayo kuliah, itu mbak-mbak udah berangkat.” “Aduh ...

Ranting

“Ranting”   Author : Fina Laila Ia hanya setangkai Ranting,   jangan digantungi harapan atau perasaan, nanti   bisa terluka dan patah...                                             Kepada : Yth. Sahabat saya,   seluruh manusia se- dunia. Hanya kau yang boleh menyakiti dirimu sendiri, tidak orang lain atau keadaan di luarmu. Maka barangkali keadaan tidak baik-baik saja, tapi pastikan hati dan jiwamu baik-baik saja. Ranting! Hei, perkenalkan, namaku Bianglala, bisa dipanggil Lala atau Bianglala. Asal jangan Biangkerok! Dan dia yang duduk di depanku saat ini adalah sahabat baruku. Namanya Semesta Ranting Mustofa. Sungguh! Katanya itu nama asli ya...